![]() |
|
|||||||
| Register | FAQ | Members List | Calendar | Search | Today's Posts | Mark Forums Read |
| BOLAVAGANZA Khusus untuk pembahasan, iklan, masukan, dll yg berkaitan dengan Majalah Bola Vaganza. |
![]() |
|
|
Thread Tools |
|
|
#1 |
|
BOLAVAGANZA 87
"Fenomena Baru Transfer Window II" Terbit 8 Januari 2009 Kuis 7 Tahun BOLAVAGANZA Berhadiah 20 Jersey The Big Four (Man Utd, Chelsea, Liverpool dan Arsenal) Tanpa Diundi... Cukup kirim kupon secara berurutan yang ada dalam 6 edisi mulai Oktober 2008 sampai Maret 2009... Gampang kan! ![]() ![]() Silahkan Klik utk perbesar... ![]() IN-DEPTH STORY Fenomena Baru Transfer Bermodal Freedom Of Movement John Lennon adalah artis fenomenal yang dikenang abadi hingga makamnya terus dikunjungi oleh penggemar. Ia hadir sebagai alternatif di tengah gencarnya pasar musik yang disesaki oleh lagu-lagu mendayu yang bertele-tele. Lennon dan tiga temannya dari The Beatles menawarkan beat riang dalam format berdurasi 2-3 menit. Ide empat sekawan dari Liverpool itu diambil dari musik kulit hitam Amerika yang telah membuat Elvis Presley, orang putih dari kalangan relatif mapan, meroket jadi ikon. Akan tetapi, mengembangkannya lebih luas dengan ciri yang khas, The Fabulous Four jadi ikon yang lebih besar dan melegenda ke seluruh dunia. Ya, kadang-kadang pilihan alternatif bisa menjadi solusi di tengah masalah. Seperti halnya efek negatif dari profesionalisme di sepakbola, pemain menjadi komoditi pasar yang identik dengan barang dagangan. Calciomercato, Transfermarkt atau Mercado dikenal sebagai masa dimana pemain menjadi obyek dagangan. Di satu sisi harga seorang pemain berbakat menjadi begitu mahal, sementara di sisi lain pemain itu sendiri semakin merasa seperti kembali kepada masa perbudakkan. Contohnya, Cristiano Ronaldo yang kini sedang mengalami puncak masa ketenarannya merasa bahwa ia tidak lagi mudah untuk menjalankan kariernya. Begitu banyak kepentingan, hingga ia sendiri pernah ditegur secara personal oleh Sir Alex Ferguson untuk tidak terlalu banyak berkomentar hal-hal yang bukan pada porsinya. FEATURE Ode untuk Fanatisme “Tahukah Anda, bahwa Korea Selatan sangat dikenal kekuatan sepakbolanya dan bahwa kami sebenarnya lebih mencintai bisbol?” tanya seorang gadis yang duduk di baris agak belakang di Haeundae Megabox Theatre 6. Dengan lugas saya menjawab “Kami hafal nyaris seluruh bintang sepakbola dari negeri ini, kami tahu kalian bangga pada Park Ji Sung,” jawab saya sembari terus menyebutkan nama-nama bintang dari negeri itu mulai dari sang legenda Cha Bum-keun sampai generasi masa kini seperti Lee Chun-soo. Malam itu 8 Oktober 2008 dan saya berada di Pusan dalam rangka Pusan International Film Festiva, malam itu adalah pemutaran kedua film saya The Conductors. Penonton nyaris memenuhi seluruh bangku yang tersedia, kabarnya pemutaran pertama—yang saya malah belum datang—justru full house. Malam itu mereka terus bertanya pada saya selama nyaris 3 jam, dan saya terus menjawab sembari menjelaskan bahwa sepakbola adalah identitas mayoritas masyarakat Indonesia. Tentu mereka sulit mempercayainya, bagi orang Korea, hanya Jepang da Cina lah dua negara di kawasan ujung Asia yang dianggap paham apa itu sepakbola. Bagi mereka, sepakbola dimainkan secara benar sekaligus menjadi komoditi luar biasa di negara mantan penjajah mereka di kepulauan sebelah tenggara. “Selain Eropa, Jepang adalah tujuan utama para pemain kami,” ujar Lee Seung-hoo seorang mahasiswa yang bertemu dengan saya di jajanan pinggir jalan saat menuju kembali ke hotel. “Seperti apa orang Indonesia bermain sepakbola?” pertanyaan yang bisa saja kita anggap aneh bahkan saya agak geli sejenak sebelum menjawabnya. Teringat di kepala saya bayangan terbaik di 23 tahun lalu saat saya melihat pasukan Sinyo Aliandoe yang dipimpin oleh Herry Kiswanto harus takluk dua kali pada kemapanan kekuatan Korea Selatan, di Seoul 0-2 dan 1-4 di Jakarta. “Mereka lebih kuat dan lebih taktis,” ujar ayah saya saat Byun Byung-joo mencetak gol dengan kepalanya tepat di hadapan Hermansyah kiper kita ketika itu. Ballon d’Or 2008 Bejana Berimbang CR7 Tidak berlebihan jika 2008 disebut tahunnya Cristiano Ronaldo. Selain dua gelar juara, Liga Champion dan Liga Premier Inggris, CR7 juga tampil sebagai top skorer dengan 31 gol dari total 42 yang dicetaknya sepanjang musim 2007/08. Sejalan dengan prestasi, kehidupan asmara gelandang Manchester United ini memang luar biasa. Setelah kisah cintanya dengan Nereida Gallardo dan Letizia Filippi kandas, ia kini diisukan merusak rumah tangga orang kabar berpacaran dengan istri pengusaha Inggris, John Haynes, Alyona Haynes. Ada-ada saja CR7, nampaknya prestasinya musim ini menjadi bejana berimbang bagi kehidupan pribadinya. Ronaldo resmi mendapat gelar Ballon d’Or 2008 menyingkirkan dua kandidat kuat lainnya seperti Lionel Messi dan Fernando Torres. Keberhasilan ini membuat Ronaldo mengikuti jejak tiga legenda United lainnya, yaitu Denis Law, Bobby Charlton dan George Best. Law mendapat gelar ini pada tahun 1964, Charlton 1966 dan Best 1968. Sukses eks gelandang Sporting Portugal ini juga menyusul keberhasilan Luis Figo sebagai orang Portugal yang pernah meraih gelar yang sama pada 2000 dan Eusebio 1965. Ia juga mengembalikan supremasi Liga Premier Inggris setelah terakhir Michael Owen meraihnya pada 2001 saat masih berkostum Liverpool. David James Kampanye Bebas Senjata Pluralisme Inggris makin hari makin keruh, keragaman yang ada makin intim dengan kekerasan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam cerita komik atau fiksi, tapi memang nyata terjadi di negara kerajaan Ratu Elisabeth itu. Tidak heran jika kemudian banyak orang tua yang makin hari makin hati-hati dan protektif dengan anak mereka. Dampaknya, taman bermain tengah kota semakin sepi dan anak-anak menjadi barang langka saat malam tiba. Hal ini sangat menggoda David James, kiper veteran Inggris yang kini berada di bawah mistar gawang Portsmouth. James menggalang program sosial Knot Violence dibawah naungan The Non-Violence Foundation hasil binaan klubnya, Portsmouth. Untuk langkah awal kiper berusia 38 tahun itu akan bergabung dengan anak-anak sekolah di kota pesisir selatan Inggris itu untuk melakukan kampanye di Stadion Fratton Park dengan menampilkan patung-patung pahatan berbentuk senjata dengan bagian larasnya tersimpul. Pahatan “Knotted Gun” ini awalnya adalah sebagai replika yang diciptakan untuk mendiang John Lennon yang tewas dibunuh oleh penggemarnya sendiri. Simbol ini sangat mendunia bahkan kini berkembang sebagai simbol anti kekerasan senjata yang dikenal sebagai program sosial diluar program-program yang dimiliki PBB. Bentuk ini bahkan berdiri tegak di lebih dari 18 lokasi di seluruh dunia. “Lambang ini berbicara banyak soal kegiatan sosial anti kekerasan. Di sini (Inggris) anak-anak muda mengerti lambang itu, sekolah membuat logo itu menjadi gambar di kaus dan sangat akrab seperti halnya logo band musik Rolling Stones,” ujar James seperti dikutip The Observer. NUKILAN BUKU CAPELLO, POTRAIT OF A WINNER SANG PEMENANG (BAGIAN 1) Sebelum jadi manajer timnas Inggris, Fabio Capello adalah sosok manajer yang kaya pengalaman dan prestasi. Klub-klub besar seperti AC Milan, Real Madrid, AS Roma, hingga Juventus merasakan sentuhan karyanya. Sebagian pihak mengkritiknya sebagai pria yang keras kepala dan arogan. Sebagian lagi memujinya karena prestasi yang telah direngkuhnya di level domestik hingga Eropa. Namun tak banyak orang yang mengetahui bagaimana latar belakang hidup dan karier manajer besar dan flamboyan ini. Pasalnya, Capello adalah pribadi yang tertutup dan pelit berkomentar di media massa. Beruntung ada Gabriele Marcotti, koresponden The Times dan Corriere dello Sport, yang dengan lugas mengangkat sosok Capello dalam buku biografi berjudul Capello, Potrait of A Winner. Buku Marcotti setebal 448 halaman ini menjelaskan dengan gamblang sepak terjang dan perjalanan karier Capello hingga menjadi manajer sukses seperti saat ini. Nah tidak seperti edisi sebelumnya, kali ini BOLA Vaganza sengaja menukil buku Marcotti tersebut dalam dua bagian atau edisi. SOSOK Klaas-Jan Huntelaar Berkah buat Madrid “What a load of nonsense!”, teriak presiden klub Ajax Amsterdam, Uri Coronel, ketika sebuah saluran televisi Belanda menyiarkan bahwa strikernya, Klaas-Jan Huntelaar, sudah resmi menjadi milik klub Spanyol, Real Madrid. Itu terjadi pada Senin, 1 Desember lalu. Sehari kemudian, Ajax secara resmi mengumumkan bahwa pemain berjuluk The Hunter itu sudah benar-benar terjual dengan harga 20 juta euro. Cara membeli pemain itu adalah khas Real Madrid, yang memiliki modus operandi dalam menangani transfer yang pelik dengan cara kurang lebih sebagai berikut: Bocorkan ke pers bahwa transfer sudah terjadi bahkan jika klub asal sama sekali tidak setuju; katakan kepada pemain bersangkutan bahwa klubnya “kesulitan” untuk melepasnya; buatlah agar pemain berbalik menentang klub asal; beli si pemain dengan setengah dari nilai si pemain sebenarnya saat klub asal berada dalam posisi lemah dalam negosiasi. Cara seperti itu juga yang dipakai ketika Madrid mendapatkan Wesley Sneijder berbulan lalu. Sehari sebelum dilepas, Sneijder bersumpah bahwa ia akan berada di Ajax hingga musim berjalan berakhir. Huntelaar tidak pernah menjanjikan seperti itu, namun seorang pemain senior di klub itu mengatakan bahwa seharusnya Ajax bisa mendapatkan 10 juta euro lagi dari nilai transfer yang 20 juta itu. Manchester City pernah memberi tawaran sebesar 32,5 juta euro pada transfer musim panas 2008. Jika saja tawaran itu diterima, maka transfer Huntelaar ke Madrid kali ini dengan nilai total 27 juta euro (tujuh juta adalah uang tampil) bisa dikatakan sebagai “perampokan”. Madrid pun berpendapat demikian. Mereka menyebut transfer ini sebagai “berkah”. Ada sosok lain yang juga tidak setuju dengan kepindahan Huntelaar. Dia adalah pelatih Ajax, Marco van Basten. LIGA INGGRIS Calon Bintang Masa Depan Inggris! Pada dua hingga tiga tahun ke depan, Wayne Rooney, Frank Lampar, Steven Gerrard, atau Rio Ferdinand mungkin sudah merasa tua. Pada masa itu, bisa jadi nama Jack Wilshere, John Bostock, atau Nile Ranger yang berkibar-kibar. Sepakbola memang tak pernah berhenti. Dengan usia yang kini rata-rata 18 tahun, potensi menjadi pemain masa depan Inggris merupakan langkah selanjutnya dari Wilshere cs. Dari sekian banyak talenta, inilah 20 remaja yang diprediksi akan melesat menguasai langit sepakbola Inggris di masa depan. Hurry Up Arséne! Sepanjang 2008, Arsenal lengket dengan prahara, dan amat mungkin masih lekat menempel di 2009. Krisis di segala lini! Namun kalimat yang harus diyakini adalah di balik semua kesusahan selalu bersembunyi kemudahan. Tergantung bisa tidaknya memanfaatkan kesempatan. Banyak orang tahu, tapi lebih banyak yang belum paham. Bencana di Arsenal bak tsunami. Perang di meja komisaris. Cedera, yang langganan, kronis dan laten. Pemberontakan pemain. Kepemimpinan. Kamar ganti yang menegangkan. Kepanikan serta unforced error. Dan semua itu bermuara, atau malah jadi hulu?, adalah kepada keruntuhan ide dan bergetarnya ketegaran sang koreografer. Palu godam pun berdentum. Sumber kreativitas, dan separo mesin permainan, yakni Cesc Fabregas, barusan divonis dokter mesti berhenti main bola sedikitnya 3 bulan. Mau jadi apa Arsenal musim ini? Inikah episode paling seru beginning the end? Namun Arséne Wenger punya kuasa dan juga stigma. In Arséne We Trust. Oke, bolehlah dia kerasukan idealismenya. Terserah dengan keranjingan eksperimennya. Tapi tolong dengarkanlah suara pelanggan! Berikanlah ketenangan para stakeholders Arsenal di seluruh dunia. Cederanya CF4, sang kapten, adalah sinyal bahaya tsunami terakhir. Perannya tidak tergantikan. Dialah separo Arsenal. So, mainkan Januari! Tapi bukan Xabi Alonso, tidak dengan Gokhan Inler. Amit-amit dengan Olivier Dacourt. In the end, cukup, dan memang harus dia: Andrei Arshavin! LIGA ITALIA Inter Campione d’Inverno Konsentrasi Serie A dan Eropa Delapan kemenangan beruntun sejak 1 November hingga 20 Desember 2008 yang diraih Internazionale Milano di Serie A memastikan langkah mereka menjadi Campione d’Inverno musim ini. Sekilas catatan ini masih dikategorikan sebagai prestasi biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan catatan yang pernah diraih allenatore sebelumnya, Roberto Mancini. Mancio pernah membawa La Beneamata mencapai tahap itu untuk kemudian meraih tiga gelar juara. Namun bukan The Special One kalau tidak menghadirkan perbedaan. Mourinho dinilai berhasil karena memainkan 25 pemain di paruh pertama, berbeda dengan Mancio yang hanya memainkan 18 pemain. Prestasi Mezzo Scudetto ini adalah jawaban sementara soal pembanding antara dirinya dengan Mancio. Meski belum menjawab secara keseluruhan, Mourinho sadar bahwa target utamanya adalah gelar Eropa. Sementara gelar domestik seperti Serie A adalah gengsi yang harus dibayar saat dirinya menjadi satu-satunya stranieri di jajaran pelatih musim ini. So, meski tantangan sebenarnya adalah Liga Champion, Jose jelas membidik Scudetto untuk menghentikan bayang-bayang Mancio. Sejatinya iklim Serie A yang dihadapi Mourinho saat ini jauh lebih kompetitif ketimbang era Mancio. Jika musim lalu uang yang berputar di calciomercato musim semi adalah sebesar 180 juta euro dengan Inter menyumbang sebesar 48 juta euro, maka musim ini uang yang berputar di summer transfer mencapai 600 juta euro. Hampir semua klub mengeluarkan dana transfer hingga banyak yang mengatakan bahwa musim ini gairah Serie A telah kembali. Ini masuk akal karena musim ini juga Lega Calcio tidak lagi diisi oleh skandal pengaturan skor (Calciopoli) hingga memaksa klub-klub yang terbukti bersalah harus menjalani skorsing. Suka atau tidak, Mourinho memang terbilang cerdik. Jika musim lalu Massimo Moratti harus merogoh dana hingga 48 juta pound, maka musim ini hanya Amantino Mancini (AS Roma) dan Sulley Muntari (Portsmouth) plus Adriano (kembali dari masa pinjaman). Sementara untuk mengimbangi neraca keuangan, tidak ada pilihan selain melepas David Suazo (Benfica), Maniche (Atletico Madrid), Siligardi (Bari), Fatic (Vicenza), Solari (svincolato), Cesar (Svincolato), Esposito (Reggiana) dan Puccio (Verona). Jika dilihat dari tradisi, nampaknya langkah Inter di separuh musim akan menjadi kenyataan di akhir musim. Fatwa tidak resmi mengatakan bahwa Campione d’Inverno adalah awal dari Campione d’Italia, siapapun yang berhasil memuncaki klasemen di pertengahan musim akan tetap ada di sana hingga akhir kompetisi. Alex dan Quaresma Antara Langit dan Bumi Selain tradisi Campione d’Inverno yang menarik ditunggu adalah anugerah Bidone d’Oro alias Golden Trash Can. Jangan anggap serius gelar ini karena penghargaan ini adalah plesetan dari Ballon d’Or yang menjadi tahta tertinggi pemain terbaik Eropa hasil pemilihan France Football. Tahun ini pemain yang mendapat gelar ini adalah Ricardo Quaresma. Penghargaan dengan figur binatang tapir itu adalah pemilihan pemain bintang dengan reputasi hebat namun gagal membuktikan kualitasnya, pemilihan ini dilakukan oleh suporter via SMS dan polling di situs Rai Radio 2 dalam program Catersport. Ibarat langit dan bumi, Alessandro del Piero di usianya yang genap 34 tahun ternyata masih bergigi dengan terpilih sebagai olahragawan terbaik Italia 2008. Pembanding keduanya bisa dengan banyak variabel. Mulai dari usia antara Alex dan Quaresma terpaut 9 tahun, ditambah lagi dengan klub masing-masing yang memiliki kekuatan finansial dan susunan pemain yang cukup signifikan. Hitung juga pengharapan publik di awal musim, dimana Quaresma digadang akan menggeser peran Luis Figo di Internazionale Milano. Sayangnya fakta lapangan mengatakan lain, justru Alex yang menunjukkan sinarnya dan sebaliknya gelandang seharga 24,6 juta euro dari FC Porto itu sangat mengecewakan allenatore Jose Mourinho. Tidak terbayangkan sebelumnya Quaresma yang memiliki kecepatan, ketegaran dan kekuatan di lini tengah Portugal identik dengan julukan Mustang ketika masih di FC Porto. Dengan kesempatan bermain yang sangat sempit, seharusnya pemain yang juga dijuluki Cigano (Bahasa Portugal dari Gypsy) itu bisa cepat beradaptasi. Apalagi pesaingnya adalah pemain tua sekelas Luis Figo. Permainannya yang sangat inspiratif saat masih di Porto kerap dianggap akan menjadi pengganggu Cristiano Ronaldo. Centrocampista berusia 25 tahun ini bahkan punya ciri khas tendangan “Trivella” yang menendang dengan kaki bagian luar hingga membuat bola melayang tanpa arah yang bisa diprediksi. Sensasi Lavezzi Rugilah anda jika sampai sekarang belum melihat aksi anak muda ini di lapangan hijau. Bagi yang setidaknya telah melewati usia aqil baliq pada era 80-an, melihat Lavezzi main dijamin 90 persen anda akan terkenang dengan sepak terjang Diego Maradona di masa jayanya. Hmm, benarkah? Hanya satu kata, meminjam lagu Harry Mukti di awal 90-an, sebagai ungkapan hati melihat si bogel dengan kostum biru muda bernomor 7 beraksi. So, what? Menghibur! Tadinya dikira anda tengah menonton Manchester United main. Carlos Tevez-kah? Bukan! Itukah Lionel Messi yang di Barcelona? Uff, lebih salah lagi. Seiring guliran waktu demi waktu, sebentar lagi anak muda yang satu ini kian merebut perhatian anda. Lavezzi adalah sosok fenomenal ketimbang sensasional. Lavezzi adalah Napoli, seperti halnya Diego dulu. Dia Maradona baru Serie A? Semoga. Pekan demi pekan, bulan terus berganti, langit di bumi Napoli berubah cerah membiru tiap kali Lavezzi bikin gol. Ia senantiasa menghibur duka lara rakyat, yang telah miskin sebelum dunia dihajar krisis global. Coretan namanya dan polesan mural makin banyak di sudut-sudut pemukiman. Lavezzi muncul di Napoli di waktu yang tepat, di kala 5-10 jutaan tifosinya sejagat tengah sekarat kehausan. Haus akan kebanggaan. Ini adalah musim keduanya bersama Napoli, yang hingga paruh pertama Serie A 2008/09 masih bercokol di zona Liga Champion. Bagaimana kisahnya Lavezzi bisa berlabuh ke Napoli, sama serunya dengan apa yang telah dilakukan si juara Olimpiade 2008 ini pada belasan stadion di Italia. Musim panas 2007, Azzurro memulai petualangan baru di Serie A 2007/08. Promosi sebagai runner-up Serie B di bawah Juventus, rakyat Napoli tetap menganggap Serie A adalah sebuah meja perjudian. Kans sukses atau gagal tipis-tipis saja. Tapi disadari mereka punya kesempatan! Ini harus digunakan sebaik-baiknya. Ujungnya, mereka cuma berharap kekuatan uang klub cukup mumpuni untuk bertarung di bursa mercato. Sudah jadi tradisi Serie A, calciomercato adalah sebuah episode dari kompetisi itu sendiri. Bidikan yang pas di mercato artinya sepertiga scudetto ada di tangan! Sepertiganya lagi harus dipanjat hingga ke puncak d’Inverno menjelang Natal. Lalu sepertiga terakhirnya ditempuh pada “trek lurus” Februari ke Mei. Bahkan sebagian pakar yang rada konservatif, juara di mercato dianggap sebagai setengahnya mencapai scudetto. LIGA SPANYOL What Would Ramos Do? Barcelona boleh saja menang ketika mereka menjamu seterus abadi, Real Madrid, 13 Desember tahun lalu. El Clasico berakhir 2-0 berkat gol-gol dari Leo Messi dan Samuel Eto’o. Namun, sejujurnya, kiprah Barcelona memenangi El Clasico bagian pertama musim 2008-2009 berlalu bak angin. Perhatian justru lebih terarah ke Madrid, di mana mereka hadir di Camp Nou bersama pelatih baru pengganti Bernd Schuster, Juan de la Cruz Ramos Cano alias Juande Ramos, yang secara resmi ditunjuk pada 9 Desember. Kalau dilihat dari kacamata suporter Tottenham Hotspur, di mana Ramos melatih sebelumnya, penunjukkan itu seperti bukan kenyataan. Sangat mengagetkan. Mana mungkin pelatih yang berantakan di klub sekelas Spurs bisa sukses di Madrid? Orang London menyebut orang Madrid mengambil keputusan yang bodoh. Tentu saja, rata-rata pelatih pernah dipecat, setidaknya satu kali sepanjang karier mereka. Akan tetapi, harap diingat, pada bulan-bulan terakhir di Spurs, Ramos melakukan terjun bebas. Ternyata, Madrid hanya melihat sukses Ramos selama melatih Sevilla dan tutup mata terhadap apa yang dilakukan Ramos selama berada di London. Bahkan, Madrid telah mengincar Ramos sejak Oktober tahun lalu, ketika Ramos dipecat oleh Spurs. Jadi, dipecatnya Schuster oleh Madrid sebenarnya tinggal menunggu hari. Sekarang, di Real Madrid, Ramos punya tugas untuk mengembalikan karakter dan harga diri pemain-pemain klub itu. Dan, ia harus melakukannya dalam waktu singkat. Kontrak Ramos dengan Madrid hanya sampai akhir musim. Jadi, setengah musim! Hanya itu. Ramos sudah melewati masa istirahat yang lumayan nyaman selama dua bulan – sejak dipecat dari Spurs. Berbekal jutaan pound uang pesangon yang diterimanya dari klub London itu. Sekarang, ia kembali bekerja di salah satu lokasi paling prestisius di negerinya. Ramos memasuki teritori yang mirip dengan yang ditinggalkannya di Tottenham. Moral pemain-pemain Madrid berada dalam kondisi sangat rendah. Skuad dalam keadaan tidak seimbang, tidak setara dengan bakat-bakat individu yang ada di dalamnya. Meski kondisinya tidak separah di White Hart Lane, namun Real sudah berada dalam taraf di mana Schuster sampai menyatakan bahwa Real tidak mungkin menghadapi Barcelona pada El Clasico, 13 Desember itu. Dan, komentar Schuster itu tidak bisa diterima oleh hirarki Santiago Bernabeu. Penampilan Madrid tidak seperti juara bertahan. Mereka kalah tiga kali dari empat penampilan. Setelah menghadapi Barcelona, menjadi empat kali dalam lima penampilan. Mereka kebobolan lebih banyak gol dibanding klub-klub lain yang berada di papan atas. LIGA JERMAN HOFFE IST WINTERBRUCHMEISTER Hasil seri 1-1 saat menjamu Schalke 04 mengantarkan Hoffenheim sebagai winterbruchmeister atau juara musim dingin (paruh musim) Bundesliga 2008/09. Pertanyaan berikut yang menggantung, mampukah Hoffe mengulang prestasi FC Kaiserslautern sebagai klub promosi yang mampu menjadi juara Bundesliga? FC Kaiserslautern pernah membikin sejarah dengan memenangi gelar juara Bundesliga 1997/98 setelah promosi dari Bundesliga 2. Apakah tim asuhan Ralf Rangnick itu bisa mengikuti jejak Kaiserslautern menjuarai Bundesliga, tentu harus dibuktikan hingga akhir musim ini. Sinyal menuju tahta juara telah diperlihatkan Hoffe berkat menjadi winterbruchmeister. Mereka memuncaki klasemen paruh pertama Bundesliga 2008/09 dengan mengantongi 35 poin. Sebenarnya Hoffe memiliki poin yang sama dengan Bayern Muenchen, namun mereka memiliki selisih gol yang lebih baik. Skuad Hoppenheim mencetak 42 gol serta hanya kebobolan 23 gol, sedangkan FC Hollywood mengkoleksi 39 gol dan dibobol 24 gol. Prestasi dan penampilan menawan ini tidak disikapi secara berlebihan oleh kubu Hoffe. Bahkan pemilik klub Dietmar Hopp menampik klubnya bakal mengusik persaingan perebutan mahkota juara. Hopp pun tidak bermimpi Hoffenheim lolos ke kejuaraan Eropa. “Itu cuma ilusi. Kami tidak akan membuang-buang waktu dengan Liga Champion atau Piala UEFA. Target kami adalah bertahan sejauh mungkin dari zona degradasi,” ujar pemilik perusahaan software komputer SAP itu merendah. VISI ARIEF NATAKUSUMAH Napoli (II) Selepas World Cup 2006, saya membaca gelagat akan bangkitnya kembali Serie A. Perubahan politik frontal dari neo liberal ke sosialis, kesenjangan sosial yang parah, dan efek kasus Calciopoli adalah sedikit dari deretan penyebabnya. Namun kini Serie A terwakili oleh 10 kota terbesar di Italia, Roma, Milano, Napoli, Torino, Palermo, Genoa, Bologna, Firenze, dan Catania. Cuma Bari yang keluar dari daftar. Sosio-kultur adalah kunci perkembangan calcio di Italia dan melahirkan reformasi Serie A di 2006. Dari empat kota metropolitan di negeri berpopulasi 60 juta jiwa, Napoli—kota terbesar ketiga—satu-satunya wakil Sud yang punya budaya lebih latino. Sedangkan Milano dan Torino, yang punya empat anggota Serie A, berwarna Eropa. Adapun Roma, kota terbesar kedua, selalu mempertahankan ikon kultur nasionalismenya. Di Mei 2006, Napoli mencatat kenangan terbaik sesudah seorang putranya, Giorgio Napolitano, menjadi presiden Italia. Kejadian ini berbarengan dengan aksi balas dendam kubu sosialis atas kapitalis di pengadilan calciopoli, sebuah skandal penipuan terbesar sepanjang sejarah. Dan, percaya atau tidak dengan teori di atas, buktinya sebulan kemudian, Italia merebut titel juara dunia! Di Oktober 2006 majalah ini membuat lapsus “Serie A Returns”, di mana klub-klub selatan mulai masuk kasta atas Liga Italia. Reggina, Cagliari, Messina, Palermo, dan Catania. Tapi “sang mercu suar”, Napoli, baru saja promosi dari Serie C ke Serie B! Meski begitu keyakinan saya mereka akan balik ke Serie A tak bisa dicegah. Saya memprediksinya lewat tulisan berjudul ”Napoli, Kunci Kebangkitan Serie A”. INSPIRASI DEDI RINALDI Reuni Pun Bubar! Bila figur manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, disebut sebagai salah satu simbol “keajaiban” di Liga Inggris, bisa jadi selorohan itu tidak berlebihan. Benar adanya! Sir Alex bisa menghentikan waktu. Ketika perubahan masa dan perputaran waktu terus menghiasi penanggalan di klub-klub lain, maka ditangannya seolah waktu telah terhenti bagi Manchester United. Kalender penanggalan di United tetap menujukkan angka 1986, tahun dimana Sir Alex mulai bertugas di Old Trafford. Di tempat lain manajer boleh datang dan pergi, namun di United situasinya tetap statis: United adalah Sir Alex, dan Sir Alex adalah United. Selain kebijakan bisnis, semuanya tak akan berubah sampai Sir Alex sendiri yang akan mengubahnya. Kekuasaan itu bisa terkonsentrasi karena secara faktual gaek asal Skotlandia ini terus-menerus memproduksi trofi bagi United. Deretan trofi yang kemudian berdampak pada berderetnya pundit-pundi kemakmuran United secara bisnis. Satu kenyataan lain yang kian menegaskan keajaiban Sir Alex yaitu dia juga adalah ”produsen manajer” di Inggris. Sejak era 90-an, bergiliran para mantan anak-buah Sir Alex mentas sebagai manajer di Inggris maupun belahan Eropa lain. Sebut saja mulai dari Bryan Robson (Middlesbrough, Bradford City, West Bromwich Albion, Sheffield United), Steve Bruce (Birmingham, Wigan Athletic), Mark Hughes (Blackburn Rovers, Manchester City), Roy Keane (Sunderland), Paul Ince (Macclesfield Town, Milton Keynes, Blackburn Rovers). Termasuk anak-buah dari tanah seberang seperti Henning Berg yang menukangi Lyn Oslo (Norwegia), Gordon Strachan (Glasgow Celtic, Skotlandia), atau Laurent Blanc pelatih Bordeaux (Prancis). Daftar ini belum termasuk para mantan anak-buah yang menukangi klub-klub di lower league. Bila kemudian alam profesionalisme membuat para mantan anak buahnya yang mentas menjelma sebagai petarung baginya, justru hal ini semakin menguatkan sisi keajaiban Sir Alex. INJURY TIME Harapan Becks di Milan Lab Libur panjang tak selamanya dinanti, khususnya bagi David Beckham awal musim dingin tahun ini. Sejak 26 Oktober lalu pemain LA Galaxy itu seharusnya menikmati libur panjang akhir musim. Namun, sebagai pemain Beckham masih menyimpan satu harapan besar, yakni kembali membela The Three Lions dan memecahkan rekor pemain Inggris dengan cap terbanyak. Masalahnya, Fabio Capello tidak bisa memastikannya dengan mudah masuk lagi ke timnas. Peluang pria yang baru saja terpilih sebagai pemain sepakbola paling terkenal di dunia versi Forbes ini masih terbuka. Pilihannya tidak lagi ke Arsenal, tapi AC Milan. Apalagi kalau bukan lantaran adanya fasilitas kesehatan canggih yang dikenal dengan Milan Lab? DB7 dijadwalkan bergabung di San Siro pada 7 Januari mendatang. Selama sekitar tiga bulan Becks bakal bersama pasukan Carlo Ancelotti sebelum kembali berlaga di musim baru MLS. Capello sendiri memberi isyarat positif bahwa kalau mantan gelandang Real Madrid bisa menjaga form dan fitnes selama masa pinjaman di Milan, peluang menambah cap sangat terbuka. Bila pemain berumur 33 tahun harus mampu membuka mata pelatih timnas Inggris saat tampil di Liga Italia. Bila berhasil, ada kemungkinan mantan kapten timnas itu akan mendapat tempat di laga persahabatan melawan Spanyol, Februari mendatang. Di situ Beckham bisa mendapat cap ke-108, menyamai rekor Bobby Moore. Ia tampaknya berharap bisa mendapat banyak manfaat selama di AC Milan, terutama melalui Milan Lab. Suami Victoria Adams tersebut pastinya berharap banyak dari fasilitas pemantau serta perawat kesehatan pemain super canggih di sana. Seperti halnya Maldini, Beckham berharap kariernya sebagai pemain bisa diperpanjang beberapa tahun ke depan. Namun, besarnya harapan juga bisa menimbulkan tekanan tersendiri. Meski demikian, salah satu pemain yang merasakan manfaat Milan Lab, Clarence Seedorf, menyatakan dirinya bakal turut membantu. Gelandang asal Belandi itu tahu persis bagaimana lab kesehatan Rossoneri itu telah membantu memperpanjang kariernya di lapangan, seperti banyak pemain Milan lainnya. Tapi, waktu Beckham tak banyak. Apakah selama beberapa pekan saja sudah cukup membantu? Menurut Seedorf, semua tergantung si pemain sendiri. “Semua tergantung pada seberapa intensif seorang pemain menggunakannya,” katanya kepada BBC Sport. Pemain konon bisa bebas menerapkan sistem di Milan Lab secara rutin, tanpa menunggu anjuran atau perintah dari klub. Meski sulit menjelaskan detailnya, Seedorf yakin calon rekan setimnya itu bakal memperoleh manfaat besar. Intinya, pemain yang ada di sana diperlakukan secara berbeda dan masing-masing dianggap unik. Tiap pemain boleh jadi menjalani latihan atau diharuskan mengonsumsi makanan yang berbeda, walaupun permasalahan yang dihadapi sama. Soalnya, solusi-solusi yang disodorkan dilandasi fakta sesuai yang diterima dan dianalisis sistem komputer, bukan lagi menurut opini ahli fisioterapi. Salah satu kemampuan sistem komputer di Milan Lab adalah mencegah pemain supaya tidak mengalami cedera. Misalnya, seorang fisioterapis memerhatikan pemain menekuk lutut saat latihan, lalu dia menyimpulkan bahwa pemain tersebut kelelahan. Apa yang dikatakannya adalah opini saja, belum sesuai fakta yang sebenarnya. Nah, sistem yang dimiliki Milan itu mampu mengenali secara akurat fakta yang terjadi pada tubuh pemain. Dengan demikian, bila komputer menyatakan bahwa seorang pemain sedang tidak fit dan ada kemungkinan cedera bila dimainkan, fakta di lapangan pun tak jauh berbeda atau bahkan persis sesuai perkiraan. Menurut Jean Pierre Meersseman, bos Milan Lab, keakuratan sistem ciptaannya itu bisa mencapai 70% dalam hal keakuratan memrediksi cedera. Dengan melakukan check-up secara teratur, klub atau pemain bisa menghindari munculnya masalah. Bahkan, sistem di sana juga bisa memberi saran makanan apa yang sebaiknya dikonsumsi seorang pemain. “Sebetulnya banyak hal di sana yang bukan merupakan penemuan baru. Bedanya ada pada cara membaca data tiap pemain untuk kemudian diterapkan dalam pola latihan,” papar Seedorf. PSSI-WATCH Apresiasi Kinerja Wasit -- Free T-Shirt -- Next Topic -- Deadline 19 Januari 2009 -- “Menyusul kegagalan Bambang Pamungkas dkk. di Piala AFF yang baru lalu, langkah apa yang sebaiknya dilakukan oleh PSSI untuk masa depan timnas?” Silahkan kirim opini Anda ke bolavaganza@gmail.com dengan subyek PSSI-Watch KOMUNITAS BOLAVAGANZA Milanisti Indonesia Indonesia Nonton Bareng Milan vs Juve Ole…ole…ole…ole… ole…ole Pato…Pato… Chant tersebut berkumandang saat Pato membuat gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Harapan Milanisti pun meningkat lagi. Tapi, semuanya itu hanya sementara. Tiga menit semuanya menjadi hening. Dan skor babak pertama membuat harapan itu menjadi mengecil. Lalu, hilang setelah Milan hanya bermain dengan 10 orang. Itulah gambaran suasana nonton bareng di lima kota besar: Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Manado, dan Bandung. Keharusan untuk kerja pada pagi harinya tidak mengurangi minat Milanisti untuk hadir nonton bareng. Hampir di semua tempat dipenuhi oleh Milanisti dan Juventini. Di Jakarta sendiri acara bertempat di Hin City, Blok M. Suasana sangat meriah hampir sepanjang pertandingan. Milanisti dan Juventini mengumandangkan chant masing-masing. Bahkan, 10 menit menjelang akhir pertandingan, dua fans klub saling bergantian unjuk kebolehan menyanyikan chant masing-masing. Di Manado dan Yogyakarta suasana serupa juga tercipta. Kemeriahaan Senin dinihari itu sayangnya tidak berujung pada kebahagiaan. Soalnya, Milan harus mengalami kekalahan. Tapi, kami bangga karena bisa menjaga suasana tetap kondusif dan aman. Juventini Indonesia Ulang Tahun Surabaya Chapter Awalnya kami, Juventini Indonesia (JI) Surabaya Chapter, berencana memeringati perayaan ultah Juventus lewat media radio. Soalnya, selain untuk ultah Juventus sekalian publikasi. Akhirnya, kami sepakat ajang tersebut kami adakan di Radio Suzana, satu-satunya radio di Surabaya yang ada acara khusus seputar sepakbola. Kebetulan ada perwakilan kami yang bekerja disana. Kami pun mendapat kesempatan mengisi acara world soccer. Persiapan kami pokoknya komplet mulai dari kue ultah, data profil JI, banner, teks yel-yel, serta kenang-kenangan ke pihak radio. Sesampainya di sana kami mendapat ide dari salah satu penyiar, bagaimana kalau ultah Juventus diranyakan di Gelora 10 Nopember saja? Kebetulan di sana ada pertandingan Divisi Liga Utama Indonesia antara Persebaya Surabaya vs Persigo Gorontalao. Kami mengambil waktu sebelum pertandingan atau jeda istirahat dengan ijin Pak Wastomi dan Ibu Indah Kurnia, pengurus Persebaya. Selain itu, acara publikasi lewat radio tetap dilakukan. Selain publikasi, kami lebih mempererat persaudaraan antarkomunitas, khususnya dengan pendukung Persebaya. Setelah itu, kami berkesempatan on air dan diisi penjelasan profil Juventini Indonesia, sesi tanya jawab (kuis) dari para pendengar, pengumuman acara ultah, dan ditutup dengan nyanyian yel-yel JI. GALERI 8 Ratu untuk Piala Konfederasi Sadar kalau Piala Konfederasi kurang “menjual”, apalagi hanya undiannya, maka panitia lokal di Afrika Selatan menggelar acara undian yang lain daripada yang lain. Undian itu dilakukan pada 22 November lalu di Sandton Convention Centre di Johannesburg. Dalam proses undian itu, Sekretaris Jendral FIFA, Jeroma Valcke, tidak dibantu oleh psepakbola, seperti proses undian yang sudah-sudah, melainkan oleh delapan orang ratu kecantikan. Ada delapan peserta Piala Konfederasi – yang akan digelar pada 14 hingga 28 Juni mendatang di Afrika Selatan; Afrika Selatan sebagai tuan rumah, Italia sebagai juara Piala Dunia 2006, Amerika Serikat sebagai juara Piala Emas CONCACAF 2007, Brasil (juara Copa America 2007, undangan), Irak (juara Piala Asia 2007), Mesir (juara Piala Afrika 2008), Spanyol (juara Piala Eropa 2008, undangan), dan Selandia Baru (juara Piala Oseania 2008). Setiap negara – dalam proses undian – diwakili oleh ratu kecantikan masing-masing, yaitu mereka yang berlaga pada ajang Miss World 2008. Semua, kecuali Irak, karena negara itu sepanjang sejarah tidak akan pernah mengirimkan wakilnya ke ajang ratu-ratuan. Karena itu, Irak diwakili oleh Miss World 2007, Zi Lin Zhang, asal Cina. Alhasil, kesan “gelap” ala Afrika pun menghilang berkat kehadiran mereka. Semuanya jadi gemerlap. Semoga saja pada saatnya nanti, turnamen Piala Konfederasi di Afrika Selatan juga akan berlangsung sukses. FOOTBALL GAME Planetarium Football Star Pencarian Bintang Muda Berbakat Pernahkah Anda berangan-angan menjadi pesepakbola kaya raya dan terkenal? Kalau pernah, ada cara untuk mewujudkan khayalan Anda tersebut. Paling tidak di alam virtual juga, yaitu dalam gim online yang dikenal dengan “Planetarium Football Star”. Anggap saja gim yang telah diterjemahkan dalam 32 bahasa ini sarana mengembangkan daya khayal. Kalau gim manajemen sepakbola macam FM atau CM versi internet sudah banyak. Tapi, untuk gim yang menjadikan pemainnya sebagai pesepakbola tampaknya Footstar (FS) adalah yang paling populer, kalau bukan satu-satunya. Di situ kita bisa mengembangkan karier sebagai bintang lapangan di klub sekaligus timnas. Walaupun masih jauh dari realistis, setidaknya FS bisa memberi kita gambaran yang cuku mendalam tentang kehidupan pesepakbola profesional. Latihan keras saja tidak cukup. Sejak memulai karier tiap pemain harus sama-sama berjuang untuk menjadi yang terbaik. Kesempatan terbuka cukup luas. Kita bisa bermain di liga lokal atau mencoba peruntungan di klub asing. Kalau ingin menjadi manajer? Bisa juga. FS menyediakan pilihan untuk itu. Tiap klub di sini standarnya tidak dikelola oleh manajer manusia. Namun, kalau ada yang berminat mengambil alih, seorang pemain bisa berlangganan paket tertentu. Paket emas (9,9 euro) bisa dipakai untuk mengambil alih klub selama tiga bulan, sedangkan paket perak (6,9 euro) hanya bisa menjadi asisten manajer. Bahkan, tak hanya sampai di level klub. Kita pun bisa mengajukan diri menjadi pelatim timnas (U18, U21, dan Senior). Di luar itu? Masih ada satu pilihan lagi, yakni menjadi ketua federasi sepakbola nasional. Untuk Indonesia namanya FSSI, plesetan dari PSSI tentunya. SURFING Studs-Up.com Komik Opini Pribadi Mengekspresikan opini bisa lewat beragam cara. Mulai dari kedipan mata, gestur tubuh, kata-kata, tulisan, dsb. Bagi orang yang suka menggambar, karya berupa karikatur atau kartun juga bisa dijadikan sarana. Inilah yang dilakukan pengelola situs Studs Up. Melalui gambar kartun digital, dia ingin menyampaikan opini soal sepakbola, utamanya di daratan Eropa. Situs yang memuat berita-berita terkini sudah sedemikian banyak. Pun ragam isinya, mulai dari situs berita ringan di luar lapangan, berita terkini, analisis pertandingan, dll. Belum lagi situs-situs pribadi pemain dan situs resmi klub. Sepertinya untuk berita-berita eksklusif sudah terlalu banyak. Selain itu, dunia maya juga sudah dijejali situs-situs berisi foto maupun video tentang sepakbola. Tapi, untuk yang memuat komik sepakbola, boleh dibilang belum terlampau banyak. Inilah yang membuat situs komik karya personal ini terlihat lain. Kalau ingin mencari tulisan-tulisan soal sepakbola pastinya jarang. Memang, ada juga sih beberapa tulisan, tetapi pendek-pendek dan dilanjutkan dengan tautan ke situs lain yang berkaitan. Misalnya saja, Berita soal acara “Stars on Canvas”, yaitu ajang amal yang diadakan mantan pemain Arsenal, Bob Wilson, dengan istrinya. Di situ ada cerita soal Matt Damon, yang ternyata membenci Tottenham Hotspurs dengan tulisan seperlunya.
Last edited by benito : 31 January 2009 at 00:31. |
|
|
"AUDERE EST FACERE"
|
|
|
|
|
|
|
#2 |
|
nice gan
thx udah dimuat |
|
|
Vecchia Guardia
www.juventini-indonesia.com We Just 2 Years Since Born, But..... We're Juventini Indonesia Now We Registered in Juventus -SpeciaL- MEMBER |
|
|
|
|
|
|
#3 |
|
thanks om..
dah dimuat, untuk report kegiatan sezione lain menyusul ya... grazie.. |
|
|
= La Comunita' Dei Tifosi Milan nel Indonesia =
www.milanisti.or.id milanisti-indonesia@yahoogroups.com |
|
|
|
|
|
|
#4 |
|
@Toelmaldini n Bayilemot.. sama2 bos... kabarin terus aja.. halaman siap aja dr kita..
|
|
|
"AUDERE EST FACERE"
|
|
|
|
|
![]() |
| Thread Tools | |
|
|








